Sabtu, 27 September 2014

Tarian Aceh

Tarian tradisional Aceh menggambarkan warisan adat, agama, dan cerita rakyat setempat. Tari-tarian Aceh umumnya dibawakan secara berkelompok, di mana sekelompok penari berasal dari jenis kelamin yang sama, dan posisi menarikannya ada yang berdiri maupun duduk. Bila dilihat dari musik pengiringnya, tari-tarian tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua macam; yaitu yang diiringi dengan vokal dan perkusi tubuh penarinya sendiri, serta yang diiringi dengan ensambel alat musik.
  •     Tari Seudati
  •     Tari Rateb Meuseukat
  •     Tari Likok Pulo
  •     Tari Laweut
  •     Tari Pho
  •     Tari Ratoh Duek
  •     Tari Tarek Pukat
  •     Tari Rabbani Wahed
  •     Tari Ranup lam Puan
  •     Tari Rapa'i Geleng

Suku Aceh

Suku Aceh (bahasa Aceh: Ureuëng Acèh) adalah nama sebuah suku penduduk asli yang mendiami wilayah pesisir dan sebagian pedalaman Aceh, Sumatra, Indonesia. Orang Aceh mayoritas beragama Islam.[1] Bahasa yang dituturkan adalah bahasa Aceh, yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat dan berkerabat dekat dengan bahasa Cham yang dipertuturkan di Vietnam dan Kamboja.[1][2]

Populasi suku Aceh antara 3.600.000 - 4.000.000 jiwa, mayoritas tinggal di Provinsi Aceh,[1][2] serta terdapat pula minoritas diaspora yang cukup banyak di Malaysia,[3] Australia,[4] Kanada,[5] Amerika Serikat,[6] dan negara-negara Skandinavia.[7][8] Suku Aceh sesungguhnya merupakan keturunan berbagai suku, kaum, dan bangsa yang menetap di tanah Aceh. Pengikat kesatuan budaya suku Aceh terutama ialah dalam bahasa, agama, dan adat khas Aceh.

Suku Aceh di masa pra-modern hidup secara matrilokal dan komunal. Mereka tinggal di pemukiman yang disebut gampong. Persekutuan dari gampong-gampong membentuk mukim. Masa keemasan budaya Aceh dimulai pada abad ke-16, seiring kejayaan kerajaan Islam Aceh Darussalam, dan kemudian mencapai puncaknya pada abad ke-17.[1] Orang Aceh pada umumnya dikenal sebagai pemegang teguh ajaran agama Islam, dan juga sebagai pejuang militan dalam melawan penaklukan kolonial Portugis dan Belanda.

Macam-Macam Suku Bangsa dan Bahasa Aceh

Provinsi Aceh memiliki 13 suku asli, yaitu:

    Suku Aceh
    Suku Tamiang
    Suku Gayo
    Suku Alas
    Suku Kluet
    Suku Julu.
    Suku Pakpak
    Suku Aneuk Jamee
    Suku Sigulai
    Suku Lekon
    Suku Devayan
    Suku Haloban
    Suku Nias

Peta Aceh

Penduduk Aceh merupakan keturunan berbagai suku, kaum, dan bangsa. Leluhur orang Aceh berasal dari Semenanjung Malaysia, Cham, Cochin Cina, Kamboja.

Di samping itu banyak pula keturunan bangsa asing di tanah Aceh, bangsa Arab dan India dikenal erat hubungannya pasca penyebaran agama Islam di tanah Aceh. Bangsa Arab yang datang ke Aceh banyak yang berasal dari provinsi Hadramaut (Negeri Yaman), dibuktikan dengan marga-marga mereka Al Aydrus, Al Habsyi, Al Attas, Al Kathiri, Badjubier, Sungkar, Bawazier dan lain lain, yang semuanya merupakan marga marga bangsa Arab asal Yaman. Mereka datang sebagai ulama dan berdagang. Saat ini banyak dari mereka yang sudah kawin campur dengan penduduk asli Aceh, dan menghilangkan nama marganya.

Sedangkan bangsa India kebanyakan dari Gujarat dan Tamil. Dapat dibuktikan dengan penampilan wajah bangsa Aceh, serta variasi makanan (kari), dan juga warisan kebudayaan Hindu Tua (nama-nama desa yang diambil dari bahasa India, contoh: Indra Puri). Keturunan India dapat ditemukan tersebar di seluruh Aceh. Karena letak geografis yang berdekatan maka keturunan India cukup dominan di Aceh.

Pedagang pedagang Tiongkok juga pernah memiliki hubungan yang erat dengan bangsa Aceh, dibuktikan dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho, yang pernah singgah dan menghadiahi Aceh dengan sebuah lonceng besar, yang sekarang dikenal dengan nama Lonceng Cakra Donya, tersimpan di Banda Aceh. Semenjak saat itu hubungan dagang antara Aceh dan Tiongkok cukup mesra, dan pelaut-pelaut Tiongkok pun menjadikan Aceh sebagai pelabuhan transit utama sebelum melanjutkan pelayarannya ke Eropa.

Selain itu juga banyak keturunan bangsa Persia (Iran/Afghan) dan Turki, mereka pernah datang atas undangan Kerajaan Aceh untuk menjadi ulama, pedagang senjata, pelatih prajurit dan serdadu perang kerajaan Aceh, dan saat ini keturunan keturunan mereka kebanyakan tersebar di wilayah Aceh Besar. Hingga saat ini bangsa Aceh sangat menyukai nama-nama warisan Persia dan Turki. Bahkan sebutan Banda, dalam nama kota Banda Aceh pun adalah warisan bangsa Persia (Banda/Bandar arti: Pelabuhan).

Di samping itu ada pula keturunan bangsa Portugis, di wilayah Kuala Daya, Lam No (pesisir barat Aceh). Mereka adalah keturunan dari pelaut-pelaut Portugis di bawah pimpinan nakhoda Kapten Pinto, yang berlayar hendak menuju Malaka (Malaysia), dan sempat singgah dan berdagang di wilayah Lam No, dan sebagian besar di antara mereka tetap tinggal dan menetap di Lam No. Sejarah mencatat peristiwa ini terjadi antara tahun 1492-1511, pada saat itu Lam No di bawah kekuasaan kerajaan kecil Lam No, pimpinan Raja Meureuhom Daya. Hingga saat ini masih dapat dilihat keturunan mereka yang masih memiliki profil wajah Eropa yang masih kental.

Sejarah pun mencatat bahwa tokoh-tokoh besar kelas dunia seperti, Marco Polo, Ibnu Battuta, serta Kubilai Khan, pernah singgah di tanah Aceh.

Bahasa

Bahasa-bahasa daerah yang terdapat di Aceh adalah:

    Bahasa Aceh
    Bahasa Tamiang
    Bahasa Gayo
    Bahasa Alas
    Bahasa Kluet
    Bahasa Julu.
    Bahasa Pakpak
    Bahasa Jamee
    Bahasa Sigulai
    Bahasa Lekon
    Bahasa Devayan
    Bahasa Haloban
    Bahasa Nias

Agama

Mayoritas penduduk di provinsi Aceh memeluk agama Islam. Selain itu provinsi Aceh memiliki keistimewaan dibandingkan dengan provinsi yang lain, karena di provinsi ini Syariat Islam diberlakukan kepada sebagian besar warganya yang menganut agama Islam.

Pendidikan

Dalam hal pendidikan, sebenarnya provinsi ini mendapatkan status Istimewa selain dari D.I. Yogyakarta. Namun perkembangan yang ada tidak menunjukkan kesesuaian antara status yang diberikan dengan kenyataannya. Pendidikan di Aceh dapat dikatakan terpuruk. Salah satu yang menyebabkannya adalah konflik yang berkepanjangan, dengan sekian ribu sekolah dan institusi pendidikan lainnya menjadi korban. Pada UAN (Ujian Akhir Nasional) 2005 ada ribuan siswa yang tidak lulus dan terpaksa mengikuti ujian ulang.

seuramoe.acehprov.go.id

Kopi Ulee Kareng

MASIH berada di kompleks pasar Ulee Kareng, Banda Aceh, bertebaran kedai-kedai kopi. Salah satunya kedai kopi itu membawa bendera “Kopi Solong Ulee Kareng Jasa Ayah”.

Memasuki kedai ini terlihat puluhan orang santai, ngobrol ke sana kemari. Belasan meja yang ada di kedai itu telah dipenuhi pengunjung. Semuanya memiliki satu tujuan: ngopi!

Terlihat hanya secangkir kopi dan segelintir kue yang menemani mereka. Namun pengunjung terus mengalir seolah tanpa henti. Santai di kedai kopi sambil mengisap rokok dalam-dalam, ciri khas yang tak lepas dari sebuah kedai.

Entah apa yang mereka diskusikan di meja kopi itu, mungkin soal bagaimana me-recovery Aceh pascabencana, mungkin juga soal pengalaman para relawan yang baru pertama kali mengevakuasi mayat, bisa juga soal sepele masalah pribadi. Semua bisa diobrolkan di arena demokratis ini.

Suasana kedai itu begitu ramai, seolah tak terjadi apa-apa di Banda Aceh. Dengan Rp 1.500 per cangkir, semua bisa kembali ke kedai kopi, bergembira sambil berjumpa kawan yang ternyata masih selamat dari bencana tsunami.

Persepsi bahwa Banda Aceh menjadi kota mati, lambat laun beranjak pulih. Banda Aceh, melalui kedai-kedai kopi khasnya, mulai menggeliat dan itu berarti pertanda kehidupan mulai normal. Begitu kira-kira analisis situasi saat ini.

Para pegawai kedai mulai disibukkan dengan pesanan pelanggan. Bahkan menurut mereka pascabencana ini suasana kedai semakin ramai. “Sekarang banyak pendatang terutama dari para relawan,” kata Lemi, penjaga kedai.

Kopi solong di pojok pasar Ulee Kareng itu kini kembali hidup dan menjadi bagian dari denyut nadi Aceh. Dibalik kepulan asap kopi solong yang aromanya menggoda selera itu terbayang harapan hidup pencinta kopi, tergambar pula bangkitnya ekonomi kerakyatan pembuatan kopi.

ADALAH keluarga Haji Muhammad Kasaman yang merintis kedai kopi “Jasa Ayah” itu sejak zaman pendudukan Jepang. Kini usaha itu ditangani anak-anak Kasaman, di antaranya Haji Nawawi sebagai manajer kedai dan Hasballah sebagai manajer produksi.

Kopi solong berasal dari biji kopi jenis robusta yang didatangkan dari Lamno Aceh Jaya. Kompas sempat menyaksikan pembuatan kopi solong yang ter masyhur itu. Pembuatan kopi di pabriknya itu bukan dilakukan puluhan atau ratusan pegawai dengan seperangkat mesin-mesin penumbuknya.

“Hanya saya yang membuatnya dengan dibantu seorang pegawai,” kata Hasballah yang ditemani pegawainya, Ilham. Bisnis selera memang tidak bisa sembarangan diserahkan kepada orang lain.

“Saya harus menjaga kualitas kopi solong agar para pelanggan tidak protes, sedikit saja saya salah memprosesnya pelanggan pasti protes,” kata Hasballah. Hasballah sadar, bisnis kedai sangat bergantung pada keahlian membuat kopi.

Karena itu, sejak meracik “bumbu” kopi, menuangkan kopi mentah ke dalam molen penggorengan, mengeluarkan kopi masak dari molen, dan kemudian mengangin-anginkan kopi matang yang masih panas, semua dikontrol penuh.

Hasballah membeberkan salah satu rahasia bumbu kopi solong, yaitu dengan menambahkannya tiga kilogram gula pasir dan satu kilogram mentega dalam 40 kilogram kopi mentah.

Hanya itu saja bumbunya? “Sumpah hanya itu saja, dijamin 100 persen murni kopi dan tidak ada daun ganja di dalamnya ha-ha-ha,” kata Hasballah sambil tertawa lebar.

Inti rasa dari kopi solong bukanlah pada campurannya tapi lebih pada ketepatan menggoreng. “Menggoreng itu tidak mudah, butuh kesabaran dan ketekunan. Jika tak sabar kopi akan gosong dan tidak enak diminum,” kata Hasballah.

Karena itu, Hasballah mengaku hanya bekerja ketika kondisi badan sedang sehat. “Kalau saya merasa malas atau badan kurang sehat saya memilih istirahat saja demi menjaga kualitas kopi solong,” katanya.

Tiap hari Hasballah harus bangun pagi untuk menggoreng kopi. Dalam dua hari sekali, Hasballah harus bekerja untuk menghasilkan sekitar 250 kilogram kopi masak yang dibuatnya dalam empat kali masak.

Namun, pascatsunami ini justru permintaan meningkat. Hasballah harus bekerja tiap hari untuk memenuhi permintaan. “Sekarang ini dalam sehari kedai kami bisa menjual sampai 3.000 gelas, hari normal hanya 2.000 sampai 2.500 gelas,” kata Lemi, penjaga kedai yang juga cucu pendiri kedai.

Jumlah itu hanya dari penjualan per gelas yang dijual Rp 1.500 per gelasnya, belum lagi penjualan bubuk kopi jadi yang dijual Rp 32.000 per kilogram. “Kami hanya menjual bubuk kopi kepada pelanggan sebagai oleh-oleh, kami tidak menjual bubuk kopi ini ke warung atau ke kedai lain,” kata Hasballah.

Tiap hari kedai itu bisa menjual hingga 50 kilogram bubuk kopi kepada pelanggan. Hasballah mengakui, justru pascabencana itu para penikmat kopi semakin bertambah banyak terutama dengan banyaknya relawan yang datang ke Aceh.

“Kami memang kehilangan ratusan pelanggan setia akibat tsunami, tapi sekarang kedai kami kembali ramai karena banyak tamu dari luar,” kata Lemi. Di balik setiap musibah, selalu saja ada hikmah dan kopi solong telah siap menemani bangkitnya Aceh pascatsunami. Tapi dengan syarat, usai puas ngopi, mari bersama-sama membersihkan puing tsunami itu

www.kopiuleekareng.blogspot.com

8 Kopi Terbaik Di-Indonesia

Kopi Aceh Gayo

Gayo adalah nama suku asli yang mendiami daerah ini. Mayoritas masyarakat Gayo berprofesi sebagai Petani Kopi. Varietas Arabica mendominasi jenis kopi yang dikembangkan oleh para petani Kopi Gayo. Produksi Kopi Arabica yang dihasilkan dari Tanah Gayo merupakan yang terbesar di Asia.

Kopi Aceh Gayo memiliki aroma dan rasa yang sangat khas. Kebanyakan kopi yang ada, rasa pahitnya masih tertinggal di lidah kita, namun tidak demikian pada kopi Aceh Gayo. Rasa pahit hampir tidak terasa pada kopi ini. Cita rasa kopi Aceh Gayo yang asli terdapat pada aroma kopi yang harum dan rasa gurih hampir tidak pahit. Bahkan ada juga yang berpendapat bahwa rasa kopi Aceh Gayo melebihi cita rasa kopi Blue Mountain yang berasal dari Jamaika. Kopi Aceh Gayo dihasilkan dari perkebunan rakyat di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Di daerah tersebut kopi ditanam dengan cara organik.



Kopi Sumatra

Kopi Sumatra merupakan salah satu varietas kopi yang bertekstur paling halus dan bercita rasa paling berat dan kompleks diantara beragam kopi di dunia. Sebagian besar kopi Sumatra diproses secara kering (dry-processed), tetapi sebagian lagi melalui proses pencucian ringan (semi-washed).

Kopi Sumatra sangat terkenal dengan Mandheling atau Lintong-nya yang tumbuh di pesisir selatan pulau Sumatra. Ahli kopi yang ingin membeli kopi Sumatra biasanya melihat ketuaan dari biji kopi Sumatra. Biji kopi ini mengeluarkan rasa “tanah” dan “rempah”. Hal ini merupakan keunikan tersendiri biji kopi Sumatra sehingga membuatnya menjadi satu dari kopi yang paling dicari diantara jenis kopi yang ada di dunia.


Kopi Jawa

Kopi Jawa Indonesia tidak memiliki bentuk yang sama dengan kopi Sumatra dan Sulawesi, cita rasa juga tidak terlalu kaya sebagaimana kopi dari Sumatra atau Sulawesi karena sebagian besar kopi Jawa diproses secara basah (wet process). Meskipun begitu, sebagian kopi Jawa mengeluarkan aroma tipis rempah sehingga membuatnya lebih baik dari jenis kopi tetangganya.

Kopi Jawa yang paling terkenal adalah Jampit dan Blawan. Biji kopi Jawa yang tua (disebut old-brown) berbentuk besar, dan rendah kadar asam.


Kopi Bali

sering disebut dengan kopi Bali Kintamani, kopi ini sangat menarik karena di olah melalui proses basah (wet-processed) . Kopi Bali bercita rasa klasik, bersih, penuh dan lembut.Kopi Bali Kintamani Kopi yang dihasilkan dari kawasan dingin Kintamani, Kabupaten Bangli ini termasuk salah satu dari tiga kopi Indonesia yang mendapat sertifikat Indikasi Geografis Unik, lebih dikenal dengan nama Indikasi Geografis. Dua kopi lain adalah kopi gayo di Aceh dan kopi flores di Nusa Tenggara (NTT).

Selain itu karena penanaman kopi di Bali  menggunakan sistem tumpang sari dengan tanaman lain, seperti sayur, kakao, dan jeruk.maka kopi kintamani juga punya ciri khas, rasanya agak asam karena bercampur dengan rasa jeruk. Ini kekayaan alami kopi kintamani.


Kopi Sulawesi

Banyak orang mengira biji kopi Sulawesi adalah improvisasi dari cita rasa kopi Sumatra dalam ukuran biji yang lebih kecil, bulir yang licin dan kadar asam yang tinggi. Daerah Toraja adalah asal dari sebagian besar kopi Sulawesi yang bermutu tinggi.

Seseorang dapat menemukan kopi dari daerah Toraja dipasarkan dengan nama Kolossi karena ini adalah nama kolonial Belanda untuk daerah ini. Rasa yang kompleks dan rasa “tanah” membuatnya mendapatkan permintaan yang tinggi dari Jepang dan USA, dan membuatnya menjadi lebih mahal daripada kopi di kepulauan nusantara lainnya.


Kopi Flores Bajawa

Penampang Dataran Flores bergelombang dengan banyak gunung berapi yang aktif dan tidak aktif. Abu dari gunung berapi tersebut telah menciptakan tanah Andosols yang subur, dan sangat ideal untuk produksi kopi organik. Kopi Arabika flores ditanam pada 1.200 sampai 1.800 meter di lereng bukit dan dataran tinggi. Sebagian besar produksi ditanam di bawah naungan pepohonan dan diproses secara basah di permukaan datar pertanian.

Kopi Flores  mempunyai rasa yang cukup abadi dibanding kopi lainnya, begitu pula dengan aroma yang cukup bisa bertahan lama. Kopi Flores Bajawa, diproduksi oleh kelompok tani di kabupaten Ngada. Kopi Bajawa adalah kopi organik yang ditanam dan diolah di perkebunan rakyat.


Kopi Wamena

Kopi yang bertekstur ringan, minim ampas, harum semerbak, dan tidak asam ini tumbuh di daerah Wamena,Papua dengan ketinggian 1,500 m dari pantai dengan suhu udara antara 20 sampai 25 derajat Celsius. Kopi-kopi ini ditanam oleh petani tradisional tanpa menggunakan pupuk dan pestisida sehingga menghasilan kopi dengan kualitas baik dan dengan aroma dan rasa yang khas dibandingkan dengan kopi yang tumbuh di daerah lain di Indonesia. Kopi bertekstur ringan, minim ampas, harum semerbak, dan tidak asam


Kopi Luwak

Kopi Luwak adalah kopi yang berasal dari biji buah kopi yang telah dimakan oleh musang/luwak. Luwak memakan buah kopi untuk mendapatkan daging buahnya. Di dalam perut luwak, enzim proteolytic meresap ke dalam biji kopi, mengurangi kandungan peptida dan membuat kopi lebih bebas asam amino. Setelah melewati usus halus, biji kopi di-ekskresi dengan tetap mempertahankan bentuknya. Setelah dikumpulkan, melalui pencucian, pengeringan sinar matahari, roasting ringan, biji kopi ini menjadi kopi yang beraroma sedap dengan lebih sedikit rasa pahit, terkenal sebagai kopi paling mahal di dunia.

Jika Anda bertanya " Apakah nama Eight Coffee itu berhubungan dengan ke delapan jenis kopi utama Indonesia tadi ? " jawabannya adalah " benar ", Nama Eight Coffee adalah untuk menggambarkan kedelapan jenis kopi tersebut.

www.eightcoffee.com

Aroma Dan Rasa Kopi Aceh


Aceh dikenal sebagai salah satu kota di Indonesia dengan produksi kopi terbesar. Maka dari itu, jika kita mengaku sebagai pecinta kopi, Kopi Aceh Gayo ini patut sekali untuk dicicipi. Selain karena aromanya yang dahsyat, cara penyajian Kopi ini pun cukup menarik untuk disimak.

Kopi Aceh Gayo dibuat dengan cara khusus ala Tanah Rencong. Yaitu diseduh dengan air panas dan kemudian disaring. Ini dimaksudkan agar hasil dari kopi, kental dan juga berkualitas. Oleh sebagian orang, Kopi Aceh Gayo dipercaya bisa menjadi penambah kekuatan atau stamina tubuh. Disebut-sebut, Kopi ini pun mempunyai kandungan antitoksin yang bisa membuat kulit kencang.

Nah, agar kesemua khasiat dari cara penyajian Kopi Aceh Gayo ini bisa kita rasakan, ada beberapa aturan minum yang harus diikuti. Yaitu kopi tidak boleh dicampur dengan gula saat sedang dalam keadaan benar-benar panas. Jadi, kopi harus mempunyai rasa pahit yang asli.

Hal ini dikarenakan rasa manis hasil campuran dari gula dipercaya bisa merusak dan melunturkan kadar nutrisi dan gizi kopi seperti yang disebutkan di atas. Untuk soal rasa, tidak perlu kita ragukan. Karena kualitas Kopi Aceh Gayo ini menduduki rangking 3 di seluruh daratan Asia.

Faktor yang disebut sebagai penentu kualitas kopi ini adalah dari kondisi tipografi daerah penanaman kopi. Yaitu di dataran tinggi Gayo. Ditaman dalam ketinggian sekitar 1.200 mdpl, membuat citarasa Kopi Aceh Gayo berbeda. Lebih kuat dan memikat. Baik dari segi aroma maupun rasa.

Untuk bisa mendapatkan rasa sempurna Kopi ini, sebaiknya kita menggunakannya untuk berkumur. Lalu menahannya di mulut terlebih dahulu sebelum menelannya. Tujuannya, untuk memicu saraf agar terangsang dan mendapatkan rasa maksimal dari kopi.

Biasanya, cara penyajian Kopi Gayo Aceh ini juga bisa kita nikmati dengan campuran berbagai bahan racikan. Seperti pinang, kuning telur, kedelai, ketan hitam dan juga gula merah.

www.waktunyakapalapi.com

Jumat, 26 September 2014

Submitsion Area